Fobia sosial yang disebut dengan gangguan cemas sosial atau Sosial Anxiety Disorder (SAD) merupakan ganguan cemas yang termasuk juga distress terhadap situasi umum atau kondisi sosial yang sangat hebat. Fobia  adalah gangguan jiwa yang kerap ditemukan, meski begitu perhatian terhadap fobia tersebut masih begitu kurang sehingga kerap disebut sebagai gangguan cemas yang terabaikan.

Perhatian yang kurang terhadap fobia sosial tersebut akibat sedikitnya penderita terutama orangtua yang mencarikan pengobatan untuk anak yang menderita fobia ini. Umumnya penderita yang berobat tidak untuk fobia sosial yang dialami, namun keluhan lain yang kerap menyertai misalnya depresi atau cemas.

Gejala Fobia Sosial dan Penanganannya

Pada umumnya gejala fobia sosial muncul diusia 11 tahunan, tapi sebagian besar muncul di usia 20 tahunan. Dalam kondisi khusus, fobia sosial bisa muncul sejak usia 7  tahunan. Fobia sosial yang muncul pada usia dini tersebut cenderung mengakibatkan seorang anak mengalami depresi berat, konflik sosial dan psikologis, dan isolasi diri.

Gejala fobia sosial

Gejala yang timbul dari fobia ini wajib untuk anda waspadai. Anak atau individu yang mengalami fobia sosial secara khas akan mengalami beberapa gejala berikut:
  1. Anak merasa takut menatap mata orang lain
  2. Jarang berbicara dengan siapa saja meski orang tersebut dikenalnya
  3. Merasa panik selama berada di tempat keramaian, misalnya saat makan dengan orang lain, berbicara di depan public, menggunakan WC umum dll.
  4. Merasa gelisah saat berada dikeramaian
  5. Merasa cemas atau takut untuk berjumpa dengan orang baru
  6. Anak merasa sulit untuk berbicara di sekolah
  7. Khawatir bakal mempermalukan diri sendiri
  8. Senantiasa merasa takut disituasi dimana anda sedang dinilai, diperhatikan maupun dijudge
  9. Menghindari dimana anak akan menjadi pusat perhatian
  10. Khawatir bahwa orang lain akan melihatnya sedang cemas atau takut
  11. Bersembunyi atau menghindar saat ada tamu yang belum dikenal berkunjung ke rumah
  12. Menghindar dari kegiatan sosial, meski kegiatan tersebut tampak menyenangkan
  13. Takut untuk menatap orang lain
  14. Cemas/takut menerima telepon dari orang yang tidak dikenal
  15. Begitu sulit untuk berbicara di lingkungan sosial

Gejala fisik yang dialami penderita Fobia Sosial

Gejala fisik yang dialami penderita sosial sebenarnya berbeda untuk masing – masing penderita, tapi yang umum terjadi ketika berada dikondisi sosial adalah sebagai berikut :
1.Keringat Berlebihan yang muncul tanpa disadari
Ketika berada di situasi sosial yang tidak diinginkan penderita fobia sosial akan berkeringat dingin dengan jumlah yang banyak, meskipun berada di ruang ber AC sekalipun.

2. Jantung yang terus berdebar.
Pada umumnya penderita fobia sosial akan mengalami ini, istilahnya “deg deg an” yang cenderung tidak terkontrol. Kondisi terparah jika jantung terus berdebar dalam konsidi yang biasa. Harus segera ke psikiater untuk mengatasi ini.

3. Kepala Pusing.
Ketika berada di kondisi sosial, penderita fobia sosial akan terus merasakan pusing. Otak berasa kosong dan buntu. Kondisi terparah apabila berlangsung dalam waktu yang lama, bisa terjadi pingsan.

4. Suhu Badan Meningkat dan muka merah merona
Suhu badan meningkat dalam artian tiba – tiba merasa panas dan gerah, keringat terus bercucuran tapi yang keluar keringat dingin. Suhu badan yang meningkat ini menyebabkan muka menjadi merah merona.

5. Mual
Pada umumnya kondisi cemas berlebihan  yang dialami penderita sosial akan mengakibatkan perut mual dan kembung, pada tahap selanjutanya bisa terjadi muntah.

6. Gagap
Ketakutan dan kecemasan yang luar biasa akan  menyebabkan penderita fobia sosial sulit untuk berbicara. Kalaupun pada  akhirnya bicara yang muncul adalah bicara gagap. Tapi ada juga yang justru memiliki kecepatan bicara yang terlampau tinggi karena semua terjadi diluar kendali.

Hal yang menyebabkan fobia sosial

  1. Gen atau keturunan. Anak atau individu bisa mengalami fobia sosial karena memperolehnya dari anggota keluarga yang juga mengalaminya. Sehingga jika orang yang mengalami fobia sosial karena gen/keturunan dapat diketahui ketika masih anak-anak saat akan memasuki dunia sosial.
  2. Lingkungan. Individu atau anak yang mengalami SAD juga bisa akibat pengaruh lingkungan terlebih akibat trauma dibidang lingkungan sosial. Trauma sosial tersebut bisa berupa: mengalami kejadian yang membuatnya begitu sangat malu, pernah dibuli atau dikucilkan di lingkungannya, mengalami kejadian yang membuatnya takut/trauma terhadap lingkungan sosial.
  3. Situasi atau kondisi sosial. Anak atau penderita kerap berada pada situasi atau kondisi sosial yang tidak mendidik, tidak berpihak serta tidak memberinya kesempatan untuk berinteraksi sosial dengan wajar dan baik. Situasi sosial ini misalnya: kondisi sosial yang tidak menerima kelainan, perbedaan, kekurangan, cacat seseorang, dimana pada mulanya anak menjadi pribadi yang tidak diterima atau diasingkan. Contoh kasus yang popular saat ini adalah bullying yang membuat seseorang mengalami fobia sosial, merasa tertekan dan berakhir pada depresi.
  4. Psikologi (diri sendiri). Fobia sosial juga bisa disebabkan oleh diri sendiri terlebih secara psikologis. Seseorang dapat mengalami SAD akibat mempunyai pemikiran selalu merendahkan dirinya, memiliki sifat penakut dan kurang mempunyai rasa percaya diri.
  5. Pola asuh yang salah. Pola asuh dari orangtua yang salah juga bisa mengakibatkan fobia sosial. Misalnya orang tua yang selalu mengedepankan pola asuh otoriter membuat anak merasa takut salah, tidak percaya diri, tertekan, takut dipermalukan, takut dimarahi dan dihukum dll.
  6. Kondisi atau tradisi keluarga. Banyak penderita fobia sosial yang memang memiliki orang tua yang tidak mendidik mereka dengan keterampilan-keterampilan bersosial, mempunyai kepribadian yang tertekan semenjak anak-anak, sering berpindah-pindah domisi yang membuat mereka tidak mempunyai waktu yang cukup untuk mengakrabkan diri dengan lingkungan serta terlampau sering bertemu dengan kondisi baru/asing.
  7. Karakter dan Pola Pikir. Cara berpikir seseorang itu sangat mempengaruhi terjadinya karakter orang tersebut. Orang yang cenderung perfectionis dan memiliki harapan yang berlebihan, pada akhirnya apa yang diusahakan tidak berhasil maka akan menjadi down. Terjadilah penyesalan yang berlebihan hingga pada akhirnya cenderung menyalahkan diri dan pada akhirnya memilih menjauhkan diri dari kondisi sosial. Kondisi ini biasanya banyak dialami penderita fobia sosial di usia remaja dan dewasa.

Dampak fobia sosial terhadap perkembangan anak

Sebaiknya anda mewaspadai fobia ini terhadap perkembangan anak. Dalam masa perkembangan anak, kerap muncul masalah yang menyebabkan anak berkembang tidak sesuai dengan usianya. Hal ini mengakibatkan hambatan dan keterlambatan untuk tahap perkembangan berikutnya.

Gangguan atau masalah tersebut bisa mengakibatkan anak terhindar dari orang lain. biasanya, fobia ini jarang mengalami perbaikan yang spontan sehingga anak menunjukkan perilaku yang menjauh, misalnya: rasa takut pada situasi sosial dan orang lain.

Fobia ini berbeda dengan sifat pemalu, anak-anak yang mengalami fobia sosial tersebut mengalami rasa takut yang sangat. Hal ini membuat anak sulit untuk berjumpa dengan orang baru, bergabung dengan teman-teman dan pergi bersekolah.

Deteksi dini fobia sosial

Untuk mendeteksi apakah anak mengalami fobia sosial atau tidak anda bisa membawanya ke psikiater atau bisa juga psikolog. Untuk tahap awal atau kondisi belum parah bisa ke psikolog. Biasanya dokter akan menanyakan apakah anak merasa takut saat diharuskan menghadiri sosial, berbicara di depan umum atau berkomunikasi.
Dokter akan menanyakan juga apakah selama 6 bulan terakhir anak mencemaskan orang lain menilai dirinya negatif, pasien merasa cemas ketika berada di tengah lingkungan sosial dan merasa malu ketika berinteraksi dengan orang. Jika hampir semua pertanyaan pernah dialami oleh anak maka dapat dipastikan sang anak mengalami fobia sosial.

Cegah Sosial Pobia sejak dini

Penanganan yang bisa dilakukan untuk untuk anak yang mempunyai kecenderungan  fobia sosial bisa dilakukan dengan:
1.Orangtua lebih bersikap demokratis
Pola asuh demokratis ini wajib dilakukan untuk mengatasi fobia sosial, apalagi jika sebelumnya orangtua menerapkan pola asuh otoriter. Sebaiknya orangtua tidak hanya memberikan sanksi saat ia salah, namun juga memberikan pujian saat ia mendapat prestasi. Beritahu juga, saat ia melakukan kesalahan dan bagaimana hal tepat yang harus ia lakukan.

2. Ajak anak bersilaturahmi
Untuk menangani fobia sosial anda sebagai orang tua bisa lebih sering mengajak anak bersilaturahmi ke rumah saudara, tetangga, kerabat, maupun sepupu. Anda juga bisa mengajak anak bermain dan berjumpa dengan anak lain di taman maupun di tempat keramaian lainnya.

3. Masukkan jadwal sosialisasi ke dalam jadwal kegiatan anak
Fobia ini bisa diatasi dengan membuat anak bersosialisasi dengan orang lain. Jadwal sosialisasi ini misalnya: berkunjung ke tempat saudara, berlibur ke sebuah tempat wisata, dll.

4. Mengenalkan anak tentang berbagai jenis karakter
Orangtua bisa mengatasi ketakutan dan kegelisahan anak dalam bersosialisasi dengan mengenalkannya tentang berbagai jenis karakter. Orangtua bisa mengambil contoh dari orang sekitar dan membuatnya terbiasa bersosialisasi dengan orang yang memiliki karakter yang beragam.

Penanganan Fobia sosial

Apabila kondisi sosial pobia sudah termasuk kodisi parah baik secara psikologis mapun gejala fisik, sebaiknya segera ke psikiater. Dalam kondisi parah seorang penderita fobia sosial sudah tidak bisa lagi mengontrol gejala fisik yang dialaminya, gangguan kecemasannya pun sudah berlebihan. Selain pengobatan ke dokter tentu yang bisa membantu si penderita fobia sosial adalah support dan dukungan keluarga. Alangkah baiknya jika keluarga terutama orang tua peka terhadap perubahan kondisi yang dialami anaknya.

Sebagai orangtua memang kita dituntut untuk mendampingi anak apapun keadaannya termasuk saat ia mengalami fobia sosial. Orangtua harus cekatan supaya fobia ini tidak berkembang dan semakin parah hingga ia dewasa.

Waspadai Fobia Sosial Pada Anak Sejak Dini


Fobia sosial yang disebut dengan gangguan cemas sosial atau Sosial Anxiety Disorder (SAD) merupakan ganguan cemas yang termasuk juga distress terhadap situasi umum atau kondisi sosial yang sangat hebat. Fobia  adalah gangguan jiwa yang kerap ditemukan, meski begitu perhatian terhadap fobia tersebut masih begitu kurang sehingga kerap disebut sebagai gangguan cemas yang terabaikan.

Perhatian yang kurang terhadap fobia sosial tersebut akibat sedikitnya penderita terutama orangtua yang mencarikan pengobatan untuk anak yang menderita fobia ini. Umumnya penderita yang berobat tidak untuk fobia sosial yang dialami, namun keluhan lain yang kerap menyertai misalnya depresi atau cemas.

Gejala Fobia Sosial dan Penanganannya

Pada umumnya gejala fobia sosial muncul diusia 11 tahunan, tapi sebagian besar muncul di usia 20 tahunan. Dalam kondisi khusus, fobia sosial bisa muncul sejak usia 7  tahunan. Fobia sosial yang muncul pada usia dini tersebut cenderung mengakibatkan seorang anak mengalami depresi berat, konflik sosial dan psikologis, dan isolasi diri.

Gejala fobia sosial

Gejala yang timbul dari fobia ini wajib untuk anda waspadai. Anak atau individu yang mengalami fobia sosial secara khas akan mengalami beberapa gejala berikut:
  1. Anak merasa takut menatap mata orang lain
  2. Jarang berbicara dengan siapa saja meski orang tersebut dikenalnya
  3. Merasa panik selama berada di tempat keramaian, misalnya saat makan dengan orang lain, berbicara di depan public, menggunakan WC umum dll.
  4. Merasa gelisah saat berada dikeramaian
  5. Merasa cemas atau takut untuk berjumpa dengan orang baru
  6. Anak merasa sulit untuk berbicara di sekolah
  7. Khawatir bakal mempermalukan diri sendiri
  8. Senantiasa merasa takut disituasi dimana anda sedang dinilai, diperhatikan maupun dijudge
  9. Menghindari dimana anak akan menjadi pusat perhatian
  10. Khawatir bahwa orang lain akan melihatnya sedang cemas atau takut
  11. Bersembunyi atau menghindar saat ada tamu yang belum dikenal berkunjung ke rumah
  12. Menghindar dari kegiatan sosial, meski kegiatan tersebut tampak menyenangkan
  13. Takut untuk menatap orang lain
  14. Cemas/takut menerima telepon dari orang yang tidak dikenal
  15. Begitu sulit untuk berbicara di lingkungan sosial

Gejala fisik yang dialami penderita Fobia Sosial

Gejala fisik yang dialami penderita sosial sebenarnya berbeda untuk masing – masing penderita, tapi yang umum terjadi ketika berada dikondisi sosial adalah sebagai berikut :
1.Keringat Berlebihan yang muncul tanpa disadari
Ketika berada di situasi sosial yang tidak diinginkan penderita fobia sosial akan berkeringat dingin dengan jumlah yang banyak, meskipun berada di ruang ber AC sekalipun.

2. Jantung yang terus berdebar.
Pada umumnya penderita fobia sosial akan mengalami ini, istilahnya “deg deg an” yang cenderung tidak terkontrol. Kondisi terparah jika jantung terus berdebar dalam konsidi yang biasa. Harus segera ke psikiater untuk mengatasi ini.

3. Kepala Pusing.
Ketika berada di kondisi sosial, penderita fobia sosial akan terus merasakan pusing. Otak berasa kosong dan buntu. Kondisi terparah apabila berlangsung dalam waktu yang lama, bisa terjadi pingsan.

4. Suhu Badan Meningkat dan muka merah merona
Suhu badan meningkat dalam artian tiba – tiba merasa panas dan gerah, keringat terus bercucuran tapi yang keluar keringat dingin. Suhu badan yang meningkat ini menyebabkan muka menjadi merah merona.

5. Mual
Pada umumnya kondisi cemas berlebihan  yang dialami penderita sosial akan mengakibatkan perut mual dan kembung, pada tahap selanjutanya bisa terjadi muntah.

6. Gagap
Ketakutan dan kecemasan yang luar biasa akan  menyebabkan penderita fobia sosial sulit untuk berbicara. Kalaupun pada  akhirnya bicara yang muncul adalah bicara gagap. Tapi ada juga yang justru memiliki kecepatan bicara yang terlampau tinggi karena semua terjadi diluar kendali.

Hal yang menyebabkan fobia sosial

  1. Gen atau keturunan. Anak atau individu bisa mengalami fobia sosial karena memperolehnya dari anggota keluarga yang juga mengalaminya. Sehingga jika orang yang mengalami fobia sosial karena gen/keturunan dapat diketahui ketika masih anak-anak saat akan memasuki dunia sosial.
  2. Lingkungan. Individu atau anak yang mengalami SAD juga bisa akibat pengaruh lingkungan terlebih akibat trauma dibidang lingkungan sosial. Trauma sosial tersebut bisa berupa: mengalami kejadian yang membuatnya begitu sangat malu, pernah dibuli atau dikucilkan di lingkungannya, mengalami kejadian yang membuatnya takut/trauma terhadap lingkungan sosial.
  3. Situasi atau kondisi sosial. Anak atau penderita kerap berada pada situasi atau kondisi sosial yang tidak mendidik, tidak berpihak serta tidak memberinya kesempatan untuk berinteraksi sosial dengan wajar dan baik. Situasi sosial ini misalnya: kondisi sosial yang tidak menerima kelainan, perbedaan, kekurangan, cacat seseorang, dimana pada mulanya anak menjadi pribadi yang tidak diterima atau diasingkan. Contoh kasus yang popular saat ini adalah bullying yang membuat seseorang mengalami fobia sosial, merasa tertekan dan berakhir pada depresi.
  4. Psikologi (diri sendiri). Fobia sosial juga bisa disebabkan oleh diri sendiri terlebih secara psikologis. Seseorang dapat mengalami SAD akibat mempunyai pemikiran selalu merendahkan dirinya, memiliki sifat penakut dan kurang mempunyai rasa percaya diri.
  5. Pola asuh yang salah. Pola asuh dari orangtua yang salah juga bisa mengakibatkan fobia sosial. Misalnya orang tua yang selalu mengedepankan pola asuh otoriter membuat anak merasa takut salah, tidak percaya diri, tertekan, takut dipermalukan, takut dimarahi dan dihukum dll.
  6. Kondisi atau tradisi keluarga. Banyak penderita fobia sosial yang memang memiliki orang tua yang tidak mendidik mereka dengan keterampilan-keterampilan bersosial, mempunyai kepribadian yang tertekan semenjak anak-anak, sering berpindah-pindah domisi yang membuat mereka tidak mempunyai waktu yang cukup untuk mengakrabkan diri dengan lingkungan serta terlampau sering bertemu dengan kondisi baru/asing.
  7. Karakter dan Pola Pikir. Cara berpikir seseorang itu sangat mempengaruhi terjadinya karakter orang tersebut. Orang yang cenderung perfectionis dan memiliki harapan yang berlebihan, pada akhirnya apa yang diusahakan tidak berhasil maka akan menjadi down. Terjadilah penyesalan yang berlebihan hingga pada akhirnya cenderung menyalahkan diri dan pada akhirnya memilih menjauhkan diri dari kondisi sosial. Kondisi ini biasanya banyak dialami penderita fobia sosial di usia remaja dan dewasa.

Dampak fobia sosial terhadap perkembangan anak

Sebaiknya anda mewaspadai fobia ini terhadap perkembangan anak. Dalam masa perkembangan anak, kerap muncul masalah yang menyebabkan anak berkembang tidak sesuai dengan usianya. Hal ini mengakibatkan hambatan dan keterlambatan untuk tahap perkembangan berikutnya.

Gangguan atau masalah tersebut bisa mengakibatkan anak terhindar dari orang lain. biasanya, fobia ini jarang mengalami perbaikan yang spontan sehingga anak menunjukkan perilaku yang menjauh, misalnya: rasa takut pada situasi sosial dan orang lain.

Fobia ini berbeda dengan sifat pemalu, anak-anak yang mengalami fobia sosial tersebut mengalami rasa takut yang sangat. Hal ini membuat anak sulit untuk berjumpa dengan orang baru, bergabung dengan teman-teman dan pergi bersekolah.

Deteksi dini fobia sosial

Untuk mendeteksi apakah anak mengalami fobia sosial atau tidak anda bisa membawanya ke psikiater atau bisa juga psikolog. Untuk tahap awal atau kondisi belum parah bisa ke psikolog. Biasanya dokter akan menanyakan apakah anak merasa takut saat diharuskan menghadiri sosial, berbicara di depan umum atau berkomunikasi.
Dokter akan menanyakan juga apakah selama 6 bulan terakhir anak mencemaskan orang lain menilai dirinya negatif, pasien merasa cemas ketika berada di tengah lingkungan sosial dan merasa malu ketika berinteraksi dengan orang. Jika hampir semua pertanyaan pernah dialami oleh anak maka dapat dipastikan sang anak mengalami fobia sosial.

Cegah Sosial Pobia sejak dini

Penanganan yang bisa dilakukan untuk untuk anak yang mempunyai kecenderungan  fobia sosial bisa dilakukan dengan:
1.Orangtua lebih bersikap demokratis
Pola asuh demokratis ini wajib dilakukan untuk mengatasi fobia sosial, apalagi jika sebelumnya orangtua menerapkan pola asuh otoriter. Sebaiknya orangtua tidak hanya memberikan sanksi saat ia salah, namun juga memberikan pujian saat ia mendapat prestasi. Beritahu juga, saat ia melakukan kesalahan dan bagaimana hal tepat yang harus ia lakukan.

2. Ajak anak bersilaturahmi
Untuk menangani fobia sosial anda sebagai orang tua bisa lebih sering mengajak anak bersilaturahmi ke rumah saudara, tetangga, kerabat, maupun sepupu. Anda juga bisa mengajak anak bermain dan berjumpa dengan anak lain di taman maupun di tempat keramaian lainnya.

3. Masukkan jadwal sosialisasi ke dalam jadwal kegiatan anak
Fobia ini bisa diatasi dengan membuat anak bersosialisasi dengan orang lain. Jadwal sosialisasi ini misalnya: berkunjung ke tempat saudara, berlibur ke sebuah tempat wisata, dll.

4. Mengenalkan anak tentang berbagai jenis karakter
Orangtua bisa mengatasi ketakutan dan kegelisahan anak dalam bersosialisasi dengan mengenalkannya tentang berbagai jenis karakter. Orangtua bisa mengambil contoh dari orang sekitar dan membuatnya terbiasa bersosialisasi dengan orang yang memiliki karakter yang beragam.

Penanganan Fobia sosial

Apabila kondisi sosial pobia sudah termasuk kodisi parah baik secara psikologis mapun gejala fisik, sebaiknya segera ke psikiater. Dalam kondisi parah seorang penderita fobia sosial sudah tidak bisa lagi mengontrol gejala fisik yang dialaminya, gangguan kecemasannya pun sudah berlebihan. Selain pengobatan ke dokter tentu yang bisa membantu si penderita fobia sosial adalah support dan dukungan keluarga. Alangkah baiknya jika keluarga terutama orang tua peka terhadap perubahan kondisi yang dialami anaknya.

Sebagai orangtua memang kita dituntut untuk mendampingi anak apapun keadaannya termasuk saat ia mengalami fobia sosial. Orangtua harus cekatan supaya fobia ini tidak berkembang dan semakin parah hingga ia dewasa.

Related Posts

Tidak ada komentar:

Posting Komentar